Sebagian besar orang tua sangat menyayangi anak-anak mereka. Hal itu jarang dipertanyakan.
Apa yang berulang kali saya lihat dalam pekerjaan klinis saya bukanlah kurangnya kasih sayang, melainkan ketidakpastian yang mendalam tentang bagaimana menggunakan kasih sayang itu ketika perilaku menjadi menantang.
Banyak orang tua percaya bahwa jika mereka lebih menyayangi, lebih banyak menjelaskan, melembutkan nada bicara, atau menunjukkan pengertian yang lebih besar selama momen-momen sulit, anak mereka pada akhirnya akan berperilaku lebih baik. Keyakinan ini sepenuhnya dapat dimengerti. Keyakinan ini berasal dari kepedulian, empati, dan keinginan bawaan untuk menjadi orang tua yang suportif dan penuh kasih sayang.
Kesulitannya adalah orang tua sering mengharapkan anak mereka untuk memahami harapan mereka secara kognitif, bahkan ketika anak tersebut belum memiliki pemahaman perkembangan untuk melakukannya. Persamaan yang tidak terucapkan cenderung terlihat seperti ini:
Anak saya sedang gelisah + cinta, dukungan, dan perhatian = anak yang tenang dan bahagia.
Namun, cara kerjanya bukan seperti itu.
Ketika seorang anak merasa tertekan dan mengalami kesulitan perilaku, yang mereka butuhkan bukanlah kasih sayang sebagai pengganti bimbingan, melainkan orang tua yang dapat menawarkan kasih sayang tanpa syarat dan fasilitasi secara bersamaan. Fasilitasi berarti memahami bahwa setiap situasi yang dihadapi orang tua bukan hanya tentang momen itu sendiri, tetapi juga tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Setiap respons, setiap nada, dan setiap batasan membentuk bagaimana anak akan berperilaku di masa depan.
Jika kita terlalu penyayang ketika seorang anak sedang menghadapi tantangan perilaku, anak tersebut akan tetap menderita.
Jika kita terlalu banyak memfasilitasi dan mengarahkan, anak tersebut akan tetap menderita.
Inilah mengapa menjadi orang tua membutuhkan keseimbangan yang sangat tepat.
Banyak orang tua ragu untuk bersikap tegas karena mereka takut bahwa menetapkan batasan berarti bersikap dingin, kasar, atau menolak. Mereka khawatir bahwa otoritas akan merusak ikatan . Padahal, kenyataannya justru sebaliknya. Kombinasi cinta tanpa syarat dengan fasilitasi yang jelas memperkuat rasa aman dan kepercayaan anak.
Ketika batasan tidak jelas, diterapkan secara tidak konsisten, atau digantikan dengan hukuman , ancaman, atau suap, hal itu justru memicu rasa kesal, dan anak-anak dibiarkan berulang kali menguji batasan. Energi kognitif mereka terkuras untuk mencoba melibatkan orang tua mereka dalam siklus perilaku negatif. Ini bukanlah perilaku sadar—melainkan bawah sadar . Seiring waktu, dinamika ini memperkuat perebutan kekuasaan yang menjadi kebiasaan dan menyebabkan kelelahan emosional bagi orang tua dan anak.
Pola asuh yang efektif bukanlah tentang memilih antara cinta dan otoritas. Melainkan tentang mengintegrasikan keduanya.
Ketika orang tua berkomunikasi menggunakan frasa dan kalimat yang tepat pada waktu yang tepat, ditambah dengan bahasa tubuh yang sesuai dengan situasi — tanpa berteriak, mengancam, menyuap, atau menjelaskan secara berlebihan — anak-anak dengan cepat mempelajari apa yang diharapkan dari mereka. Mereka lebih mampu memanfaatkan kesempatan yang diberikan kepada mereka untuk bekerja sama, mengakui kesalahan mereka, dan belajar darinya. Hal ini mengembangkan rasa tanggung jawab dan akuntabilitas, memutus siklus perilaku negatif yang sudah menjadi kebiasaan.
Anak-anak yang merasa dibimbing dengan aman tidak takut akan kegagalan atau kesalahan. Mereka percaya bahwa dalam hubungan mereka dengan orang tua, ada ruang untuk belajar, memperbaiki, dan melangkah maju.
Jika cinta saja dapat mengubah perilaku, maka mengasuh anak akan menjadi mudah.
Anak-anak tidak membutuhkan lebih banyak kasih sayang—mereka sudah memilikinya.
Yang mereka butuhkan adalah bimbingan dan fasilitasi yang jelas dan kuat dari orang tua mereka. Inilah yang memberikan rasa aman secara emosional, rasa nyaman, kepercayaan diri , dan pada akhirnya peningkatan kesejahteraan yang signifikan.